home Bitcoin Plus Minus Demokrasi Bitcoin

Plus Minus Demokrasi Bitcoin

Usaha untuk mengaktifkan proposal BIP148 melalui metode UASF pada 1 Agustus 2017 mendatang merupakan salah satu bagian demokrasi yang diterapkan dalam sistem Bitcoin. Mengapa ada hal yang demikian dalam Bitcoin? Pertama-tama perlu diketahui bahwa Bitcoin bukanlah sekedar sistem pembayaran biasa. Bitcoin juga merupakan perwujudan atas manifesto Cypherpunk di tahun 80-an. Bitcoin merupakan salah satu alat yang dikembangkan untuk mewujudkan suatu masyarakat yang bebas dari kontrol pemerintah yang dirasa berlebihan oleh para anggota Cypherpunk, yang tidak hanya berpaham libertarian namun juga menguasai teknik kriptografi dan keamanan siber. Kaum libertarian menganggap bahwa sistem keuangan terlalu besar untuk dikuasi satu atau beberapa golongan semata, dan mereka memiliki misi untuk mengembalikan kekuatan ekonomi kepada masyarakat, salah satunya melalui alat pembayaran yang terdesentralisasi tanpa adanya pihak sentral yang memiliki kecenderungan untuk membuat kebijakan yang menguntungkan diri sendiri atau kelompoknya, yang pada gilirannya membawa dampak merugikan bagi masyarakat. Salah satu contoh nyata adalah bailout bank gagal dengan menggunakan uang pajak yang dibayarkan rakyat.

Voting
Untuk menghilangkan pihak sentral, satu-satunya cara adalah dengan mengenakan sistem konsensus di dalam sistem yang baru dibangun ini. Satoshi Nakamoto sedari awal berusaha menerapkan prinsip “One CPU One Vote”, meskipun kita tahu prinsip ini sudah tidak lagi relevan dengan dikembangkannya perangkat ASIC yang dikuasai sekelompok golongan penambang. Tentu saja demokrasi dalam sistem elektronik sangat tidak efisien jika dilakukan oleh manusia sebagaimana layaknya ketika pemilu. Maka sistem “One CPU One Vote” menjadi salah satu pilihan yang paling logis. Mereka yang memiliki CPU (atau sekarang ini lebih tepatnya memiliki perangkat penambangan) memiliki hak untuk menentukan jalannya sistem Bitcoin, yang mencakup beberapa hal sebagai berikut:
– memverifikasi transaksi-transaksi baru dan memasukkannya ke dalam blok baru yang valid.
– memberikan persetujuan atas perubahan protokol Bitcoin yang diajukan melalui mekanisme BIP.
Dengan demikian, sistem demokrasi tidak hanya mencakup transaksi dan operasi Bitcoin sehari-hari saja, melainkan juga dalam hal peningkatan atau perubahan protokol Bitcoin. Menurut definisi “One CPU One Vote”, para penambang adalah pemilik suara yang berhak memberikan suaranya terhadap apapun yang mereka sukai. Semakin banyak CPU (atau kekuatan komputasi) yang mereka miliki relatif terhadap jumlah total kekuatan penambangan di dalam jaringan Bitcoin (dihitung dalam bentuk persentase terhadap total kekuatan penambangan), maka semakin besar juga pengaruh mereka dalam perpolitikan Bitcoin.

Baca Juga:  Perusahaan Start-up Circle Peroleh Lisensi Uang Elektronik di Inggris

Cara Voting
Telah dijelaskan di bagian sebelumnya bahwa voting dalam sistem Bitcoin memiliki mekanisme yang berbeda dibandingkan dengan sistem voting konvensional. Dalam Bitcoin, voting biasanya ditentukan dengan “flag day”. Flag day menandai awal pengambilan suara. Suara ini dihitung dengan cara menghitung jumlah blok yang memiliki flag tertentu sebagaimana telah ditentukan sebelumnya. Flag yang dimaksud bukanlah bendera, melainkan sebuah tanda atau kode khusus (misalnya kode biner 1 pada posisi tertentu) pada sebuah blok. Jika sebuah blok baru memiliki flag yang sesuai dengan ketentuan, maka blok tersebut dihitung sebagai “setuju”, dan demikian sebaliknya, jika sebuah blok tidak memiliki flag tertentu, maka blok tersebut dihitung sebagai “tidak setuju”.

Positif
Ide (dan pengimplementasian) demokratisasi dalam lingkup eksekutif sebuah sistem terkomputerisasi adalah hal yang patut dirayakan. Terobosan! Barangkali sistem yang ditawarkan oleh Bitcoin memang tidak sempurna, namun bagaimanapun, Bitcoin memberikan pengalaman yang berbeda dalam pengelolaan sistem pembayaran yang biasanya dikendalikan secara terpusat. Bitcoin juga memberikan pengalaman implementasi berbagai teknik kriptografi menjadi sebuah sistem yang aplikatif. Bitcoin membuka mata masyarakat bahwa kriptografi memberikan solusi-solusi yang menarik. Bitcoin memberikan ekstra “pemanis” buat para pakar kriptografi untuk lebih terlibat dalam proyek-proyek nyata yang langsung dapat diimplementasikan untuk menyelesaikan sebuah permasalahan yang barangkali belum dapat dipecahkan sebelumnya.

Baca Juga:  Di India, Harga Bitcoin Sentuh $1000!

Negatif
Sebagaimana seluruh sistem yang ada di dalam dunia ini. Bitcoin juga mengalami problematika dalam penerapan sistem demokrasi. Para penambang yang termotivasi oleh imbalan ekonomi terus berlomba untuk menambah porsi suara miliknya, karena dengan demikian peluang mereka untuk mendapatkan blok baru semakin besar. Peran penambang juga semakin besar, dan terkadang hal ini tidak disukai oleh pemangku kepentingan lainnya dalam ekosistem Bitcoin, seperti penyedia layanan exchange dan pembuat wallet (selanjutnya akan disebut user). Para user ini tidak mendapatkan profit atas blok-blok baru yang mengkonfirmasi transaksi Bitcoin, namun malah dibebani untuk mengelola node-node Bitcoin yang menyimpan informasi transaksi tersebut. Node-node ini tidak hanya memerlukan media penyimpanan yang lega namun juga bandwidth Internet yang mencukupi untuk melayani transfer data dari node lain maupun dari pengguna jasa yang mereka tawarkan. Meskipun memiliki peran yang tidak kecil, node-node ini tidak pernah mendapatkan bagian keuntungan atas jalannya sistem Bitcoin.

UASF yang diinsiatif oleh user merupakan salah satu cara bagi para user ini untuk mengklaim posisi mereka dalam percaturan politik di sistem Bitcoin. Apabila UASF ini berhasil, maka hal ini akan menjadi preseden bagi alternatif solusi di masa depan jika diperlukan. Salah satu inti dari UASF adalah “memaksa” para penambang untuk tunduk pada perubahan protokol yang diinginkan oleh user dengan risiko kerugian finansial yang dialami oleh penambang jika tidak mengikuti keinginan user. Dalam hal penambang tidak tunduk pada ketentuan baru ini, maka blok-blok baru yang diciptakan oleh para penambang bisa saja ditolak oleh para user yang menguasai sebagian besar node Bitcoin di seluruh dunia. Namun hal ini tidak berarti bahwa penambang akan takluk begitu saja. Sebagai kekuatan tradisional dalam Bitcoin, dukungan para penambang tetap diperlukan oleh user untuk mensukseskan UASF ini. Masalahnya, masih terdapat sebagian penambang yang meiliki pengaruh besar dan menentang rencana UASF secara terang-terangan.

Baca Juga:  Celah Routing Internet Bahayakan Pengguna Bitcoin

Catatan:
Artikel ini memiliki keterkaitan dengan tulisan Demokrasi Anonimitas ala Bitcoin.

Dimaz

Cryptocurrency and cyber security Enthusiast at Kriptologi.com
Dimaz memiliki 10 tahun pengalaman sebagai programmer. Ia kini tenggelam dalam dunia cryptocurrency dan cyber security.
TAGS:

Dimaz

Dimaz memiliki 10 tahun pengalaman sebagai programmer. Ia kini tenggelam dalam dunia cryptocurrency dan cyber security.

2 thoughts on “Plus Minus Demokrasi Bitcoin

  1. Mas Dim, berarti kekuatan user di seluruh dunia masih belum bisa dikalahkan sama kekuatan para penambang pool ya mas? Melihat statistik kekuatan antara miner pool sama node user itu dimana ya mas.. Terima kasih sebelumnya.

    1. sebenarnya dalam struktur bitcoin, hanya miner yang punya “hak” untuk mengendalikan sistem. user sendiri pun harus memiliki dukungan penambang demi mengeksekusi apapun yang mereka inginkan.

Leave a Reply

%d bloggers like this: