. . .

Di masa lampau, kita telah mengenal metode-metode penjualan token (cryptocurrency) perdana seperti ICO dan IEO. Kesuksesan sistem DEX (Decentralised Exchange) membawa tren baru yakni IDO. Cara-cara menjual token telah mengalami evolusi, namun keserakahan manusia tak berubah: ingin mendapatkan untung secara mudah, murah, dan cepat. Artikel ini akan mengupas sejarah penawaran koin perdana, mulai dari ICO, IEO, dan yang terbaru, IDO. Artikel ini akan membantu Anda memahami mekanik yang ada di belakang IDO.

ICO

Sebelum kita bicara soal IDO, kita mesti lebih dahulu memahami sejarah per-token-an. ICO (Initial Coin Offering) adalah metode pertama yang dikenal orang untuk berjualan koin perdana. Penjualan koin perdana saat ICO ini serupa dengan IOU (I Owe You) pada produk futures, di mana barang yang dijual akan diserahkan di masa depan. ICO banyak dipakai untuk mengumpulkan dana oleh para pengembang perangkat lunak berbasis blockchain agar punya dana/modal kerja untuk mengembangkan aplikasi yang telah dirancang. Modal ini biasanya dipakai untuk merekrut programmer baru, berpromosi, maupun keperluan lainnya.

ICO sangat disukai para pengusaha rintisan karena tak perlu menjual ekuitas. Para pembeli koin tidak dijanjikan sepotong apapun kue keuntungan yang akan diperoleh perusahaan. Inilah yang membedakan ICO dengan proses pengumpulan dana tradisional lainnya, misalnya melalui perusahaan pemodal (venture company atau VC) ataupun penjualan saham yang prosesnya berbelit-belit dengan setumpuk aturan yang tentu saja tak bisa dipenuhi para perintis ini.

Tak hanya disukai pelaku ICO, pembeli pun tak segan memborong koin ICO. Atas dasar pengalaman masa lalu yang sudah-sudah, utamanya melihat bagaimana harga Bitcoin yang melesat dari nol hingga kini ratusan juta rupiah, pembeli ICO tak mau ketinggalan membeli “Bitcoin baru” yang mengusung teknologi lebih maju. Ya, tentu saja, dengan harapan memperoleh cuan besar.

Era ICO sangatlah populer di sekitar tahun 2017. Hampir setiap hari ada proyek baru yang melakukan ICO, yang hampir selalu bisa diserap pasar. Saat itu, pasar ICO memang sangat gurih. Banyak proyek yang sukses merilis produk berkualitas, semisal Cosmos (ATOM). Saat itu, Cosmos menjual habis koin perdananya dalam waktu 28 menit saja, dengan total dana dikumpulkan USD16juta.

Cosmos adalah salah satu cerita sukses ICO, dengan harga koin yang berhasil menanjak ratusan kali lipat dari harga ICO. Namun sayangnya, tak sedikit pula proyek yang gagal. Berita tentang pelaku ICO membawa lari uang investor saat itu juga bukan berita langka. ICO punya cerita sukses, namun kisah mirisnya juga tak bisa dikesampingkan.

IEO

IEO atau Initial Exchange Offering adalah evolusi kedua dari penawaran koin perdana. Para investor, setelah berpengalaman mendapatkan kerugian besar, akhirnya belajar bahwa banyak di antara mereka tak punya pengetahuan yang cukup tentang blockchain. Atau, ada juga yang merasa bahwa ICO tak memberikan jaminan apapun tentang proyek yang dikerjakan. Untuk itulah, para investor merasa harus ada pihak yang menjadi “asesor” atas proyek-proyek baru ini. Jabatan asesor ini jatuh ke tangan pasar aset kripto (crypto exchange). Alasannya, karena mereka telah memiliki infrastruktur yang memadai untuk memfasilitasi transaksi antara investor dengan pemilik proyek.

Musim IEO ditandai dengan munculnya proyek-proyek launchpad yang digawangi pasar aset kripto terdesentralisasi. Binance Launchpad misalnya, menjadi salah satu yang terlaris dan selalu diburu investor. Binance memanfaatkan nama besar mereka untuk mempromosikan proyek-proyek baru dan memuluskan langkah proyek rintisan untuk mengumpulkan dana. Band Protocol, Kava, dan Matic merupakan contoh proyek yang sukses melalui Binance Launchpad.

IEO membuat proses penjualan koin baru jadi lebih “berlabel”, atau punya kredensial yang lebih baik ketimbang proyek-proyek ICO. Namun solusi ini juga bukannya tanpa masalah. Pertama, banyak investor yang tak kebagian. Sistem sentralistik membuat orang bertanya-tanya: apakah protokol penjualan koin yang dijalankan memberikan keadilan bagi semua investor, ataukah ada investor besar yang punya “pintu belakang”? Kedua, sistem launchpad yang sentralistik juga terkadang bermasalah. Saat banyak investor berbondong-bondong mengakses aplikasi, aplikasi tersebut tak mampu menangani trafik yang tiba-tiba melonjak tajam. Investor yang sudah antre (bisa berjam-jam) pun banyak tak kebagian. Ketiga, ditengarai pemilik launchpad meminta komisi yang tak sedikit. Bisa dipahami, karena memang ini yang memotivasi mereka membuat launchpad, bukan? Akibatnya, proyek-proyek yang memang dimulai dari nol tak sanggup mengakses fasilitas launchpad ini. Keempat, apa yang menjamin bahwa pihak launchpad tidak “main mata” dengan pemilik proyek yang sebenarnya bodong alias sekem (scam)?

IDO

IEO memang masih berjalan, namun kepopulerannya makin terkikis dengan makin tenarnya platform DEX (Decentralised Exchange). Uniswap (UNI) jadi pemain dominan dalam platform Ethereum. Selain Uniswap yang ada dalam Ethereum, ada pula Pancakeswap (CAKE) yang merupakan kloningan Uniswap versi dua untuk Binance Smart Chain (BSC).

IDO jauh lebih mudah dibandingkan IEO. Berbeda dengan IEO yang memerlukan dana awal, IDO bisa dilakukan dengan lebih leluasa. IDO memang perlu modal, tapi modalnya tidak hilang percuma, tetapi hanya “ditempatkan” sementara.

Proses penjualan token melalui IDO ini cukup mudah digunakan. Tetapi jangan salah, mekanisme di belakang IDO tidak mudah dipahami. Oleh karena itu, bacalah artikel ini hingga selesai untuk tahu sedikit lebih banyak tentang DEX ketimbang saat Anda berada di paragraf pertama artikel ini.

Uniswap

Meski Uniswap bukan satu-satunya platform DEX di dunia, namun produk ini salah satu yang paling terkenal, yang ikut membentuk ekosistem DeFi (Decentralised Finance atau keuangan terdesentralisasi) yang ada saat ini. Oleh karena itu jugalah Uniswap (atau kloningannya, Pancakeswap) banyak dipakai sebagai platform IDO. Uniswap adalah sistem automated market maker (AMM) terdesentralisasi. Artinya, orderbook yang biasanya dijalankan oleh sistem sentralistik seperti Binance, terimplementasi secara on-chain menggunakan kontrak pintar (smart contract). Dalam hal ini, seluruh proses jual-beli tercatat rapi dalam blockchain.

Seperti halnya orderbook biasa, di dalam Uniswap terdapat dua pihak, yakni penjual (ask) dan pembeli (bid). Penjual juga sering disebut dengan maker, sementara pembeli diistilahkan sebagai taker. Dua istilah ini cukup rasional bila kita memandangnya dari sisi likuiditas aset (liquidity). Penjual adalah liquidity maker (atau juga liquidity provider) karena merekalah yang menyediakan aset untuk diperjual-belikan, sementara pembeli menjadi liquidity taker karena mengambil aset (dibeli) dari pasar.

Sebuah pasar dalam Uniswap disebut dengan pool (dalam bahasa Indonesia diterjemahkan secara harafiah sebagai kolam, akan tetapi kata ini kurang tepat menggambarkan pool; oleh karena itu, akan disetarakan dengan kata pasar). Pool ini tersusun atas sepasang aset yang diperdagangkan. Misalnya pool (pasar) UNI/ETH, merupakan pasar pertukaran antara UNI dan ETH. Seseorang bisa menukar token UNI dengan ETH (membeli UNI dengan membayar ETH), atau menukar ETH dengan UNI (menjual UNI dan menerima ETH).

Ada banyak sekali pool di dalam Uniswap. Faktanya, setiap orang bisa membuat pool baru yang berisi pasangan token yang belum tersedia. Apabila tidak ada pool yang cocok untuk sebuah order, maka Uniswap akan mencoba mencari rute perdagangan antara token yang akan dijual dengan token yang akan dibeli. Fitur ini merupakan fitur pilihan (opsional).

Di dalam Uniswap atau Pancakeswap, seorang liquidity provider dalam sebuah pool harus menyediakan liquidity dalam bentuk dua token dengan nilai yang sama atau 50:50. Misalnya dalam contoh UNI/ETH di atas, bila seseorang ingin menyediakan liquidity sebesar 1 ETH, maka ia juga harus menyediakan UNI senilai 1 ETH. Dengan kata lain, ia harus menyetor 143,3 UNI dan 1 ETH menurut harga hari ini (UNI dijual seharga USD24 dan ETH USD3440). Tentu saja seorang liquidity provider tak perlu menyetor angka bulat. Sebanyak 71,6 UNI dan 0,5 ETH bisa juga disetor. Yang penting, dua nilainya setara.

Seorang liquidity provider akan mendapatkan liquidity pool token (LP Token) yang jumlahnya menggambarkan seberapa besar kontribusinya terhadap pool tersebut. Ia juga akan mendapatkan penghasilan (penghasilan pasif!) dari fee transaksi sebesar 0,3%, yang berasal dari fee yang dikutip oleh sistem Uniswap saat ada transaksi jual maupun beli token dalam pool tersebut.

Proses penentuan harga kedua pasang token juga mengikuti rumus tertentu. Yakni, total nilai UNI dan ETH sebelum dan sesudah sebuah transaksi harus sama. Mekanisme ini disebut “Constant Product Market Maker Model” (CPMMM) dengan rumus:

x * y = k

Dengan x dan y adalah nilai kedua token dalam pool, dan k adalah konstan.

Dengan rumus di atas, dapat dipastikan bahwa harga akan naik saat seseorang melakukan pembelian UNI, karena suplai UNI berkurang dan suplai ETH bertambah. Pun sebaliknya, harga turun saat penjualan UNI dilakukan karena suplai UNI bertambah dan suplai ETH berkurang.

CPMMM dan Manipulasi Harga

Mekanisme CPMMM perlu diwaspadai karena rentan manipulasi harga. Di dalam IDO, kenaikan dan penurunan harga signifikan dapat terjadi secara instan. Hal ini umum terjadi pada pool (pasar) dengan likuiditas rendah (atau sangat rendah). Pada saat IDO, umumnya para pemilik proyeklah yang menyediakan likuiditas. Tentu dapat dipahami, karena mereka bertujuan menjual token di dalam DEX. Nah, karena IDO maka transaksi yang banyak terjadi adalah transaksi beli. Akibatnya, harga token akan melonjak secara tiba-tiba, terutama bila token tersebut banyak diminati.

Sesuai dengan efek psikologis FOMO (Fear of Missing Out), naiknya harga ini akan membuat investor makin banyak menaruh dananya ke dalam pool tersebut dengan membeli token. Akibatnya, harga token akan semakin tinggi.

Sayangnya, harga token di dalam pool tidak mencerminkan nilai pasar yang sebenarnya. Suplai token pada awalnya hampir selalu dikuasai secara penuh oleh penyelenggara IDO. Hal ini yang menyebabkan likuiditas pool dapat dimanipulasi, karena tak ada seorang pun di luar penyelenggara yang mampu bertindak sebagai penyedia likuiditas dengan jumlah yang signifikan. Dengan kata lain, penyelenggara IDO bisa seenaknya menentukan dan memanipulasi harga dengan memainkan suplai dan/atau membeli dan menjual token mereka sendiri.

Slippage

Sebuah token yang berhasil meraih kenaikan harga 10 kali lipat bukan berarti nilai pasar token tersebut telah naik 10 kali lipat. Kenaikan ini semata-mata dikarenakan kurangnya suplai token di dalam pool sehingga harga mencuat ke atas. Ciri-ciri mudah mengidentifikasi kondisi seperti ini adalah persentase slippage yang tinggi saat seseorang ingin membeli atau menjual token yang di-IDO-kan di dalam pool.

Slippage menunjukkan seberapa jauh sang pembeli atau penjual (atau kita sebut sebagai investor) mau mentoleransi selisih harga. Semakin tinggi slippage, maka semakin besar pula selisih harga yang diderita oleh investor tersebut. Slippage juga bisa menunjukkan seberapa sensitif pool tersebut terhadap transaksi sang investor. Artinya, bila slippage tinggi saat sang investor membeli, maka investor akan mendapatkan token jauh lebih sedikit dari yang diharapkan, dan di saat yang sama harga akan merangsek naik. Hal ini berlaku juga sebaliknya.

Penutup

IDO merupakan inovasi yang tak dapat dihindari dengan berkembangnya ekosistem DeFi. IDO menjembatani antara dana publik dengan pemilik proyek. Namun, di sisi lain, IDO memungkinkan sejarah terulang kembali, dan bahkan makin buruk, karena potensi manipulasi harga yang dilakukan oleh pelaku IDO yang dapat merugikan investor secara besar-besaran.

Pengetahuan akan mekanisme DEX mutlak diperlukan bagi para investor yang berminat membeli token IDO. Tanpa adanya pengetahuan memadai, bukan tak mustahil investor akan mengalami kerugian signifikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.