home Bitcoin Menakar Peluang UASF Atasi Problem Skalabilitas Bitcoin

Menakar Peluang UASF Atasi Problem Skalabilitas Bitcoin

Tulisan ini merupakan kelanjutan pembahasan topik UASF yang akan diaktivasi pada tanggal 1 Agustus 2017 mendatang.

Recap

Konflik tentang isu skalabilitas dalam lingkungan Bitcoin telah terjadi selama 4 tahun terakhir tanpa solusi yang benar-benar menyelesaikan persoalan. Berbagai alternatif seperti Bitcoin XT, Bitcoin Classic, dan Bitcoin Unlimited tampaknya belum memuaskan semua stakeholder Bitcoin. Komunitas ini sempat terpecah menjadi 2 kubu, yakni kubu yang ingin mempertahankan batas blok maksimum sebesar 1 MB dengan perluasan kapasitas melalui Segregated Witness (SegWit) melalui soft fork dan kubu lain yang ingin memperbesar ukuran blok menjadi lebih besar dari 1 MB melalui hard fork.

Kini para pendukung software Bitcoin Core menginginkan eksekusi pengaktifan SegWit melalui mekanisme UASF (User Activated Soft Fork). Dalam infrastruktur Bitcoin, mekanisme ini belum pernah dilakukan, sebab umumnya update fitur diaktifkan melalui mekanisme MASF (Miner Activated Soft Fork). Jika pada MASF update software diaktifkan melalui para miner yang melakukan voting melalui blok-blok baru, maka UASF ini merupakan “pemaksaan” oleh user Bitcoin (vendor, exchanger, wallet, dll) yang mengelola node Bitcoin kepada para miner agar para miner segera beralih pada software dan protokol baru atau mereka akan ditolak oleh node-node yang dikendalikan oleh user pendukung UASF.

Pertentangan Makin Tajam

Dengan adanya rencana UASF ini, konflik tidak berhenti. Pihak pendukung UASF dan penentang UASF sepertinya belum bisa disatukan saat ini. Jimmy Song dalam salah satu artikelnya menyebut bahwa usaha UASF ini tidak ubahnya seperti kartel yang berusaha menyetir jalannya sistem. Padahal node sendiri tidak memiliki kekuatan apapun untuk melindungi blockchain. Sebagaimana perlu diketahui, dalam sistem Bitcoin, Proof of Work (PoW) adalah segalanya. Melalui komputasi PoW yang ekstensif (hingga mencapai PetaHash per detik), maka informasi di dalam blok Bitcoin bisa aman dari serangan. Nah, yang perlu dipertanyakan bagaimana cara user menyetir para miner untuk mengikuti kehendak para user untuk melakukan aktivasi BIP148 mulai tanggal 1 Agustus 2017.

Baca Juga:  Locky, Ransomware Terbaru Targetkan Perusahaan Besar

Potensi Hard Fork dan Backlog

Dalam artikel yang sama, Song menjelaskan berbagai skenario yang mungkin terjadi pada tanggal 1 Agustus 2017. Apabila para node memang tidak memiliki kekuatan komputasi yang memadai, misalnya kurang dari 50%, dan miner tetap tidak mau mengikuti keinginan para user melalui UASF yang diusulkan, maka akan terbentuk 2 cabang rantai, yakni rantai user dan rantai miner. Kedua rantai ini akan mengikuti aturan yang berbeda dan pada akhirnya akan menciptakan 2 koin yang berbeda pula. Replay attack bisa terjadi apabila penyedia layanan Bitcoin seperti pasar exchange tidak merespon dengan baik untuk menangani kedua koin yang “berpisah jalan” ini. Sebenarnya hard fork seperti ini sangat ingin dihindari oleh semua pendukung Bitcoin Core, karena bisa memiliki dampak yang kurang baik terhadap pasar BTC di seluruh dunia, di mana harga pasarnya bisa merosot tajam.

Selain itu, tanpa adanya dukungan hashrate yang memadai, maka sebuah blok akan diciptakan jauh lebih lama ketimbang yang seharusnya. Problem ini setidaknya terjadi hingga adanya penyesuaian difficulty yang terjadi setiap 2016 blok. Dengan lamanya blok baru diciptakan, maka disinyalir biaya transaksi akan membengkak dan kinerja sistem Bitcoin akan sangat terganggu akibat lamanya konfirmasi transaksi.

Bitmain Menentang UASF

Dalam berbagai kesempatan, Bitmain menyatakan ketidaksetujuannya terhadap rencana UASF. Bahkan Bitmain telah mempersiapkan sebuah rancangan untuk melakukan hard fork, yang disebut dengan User Activated Hard Fork (UAHF). Sebuah software sedang disiapkan untuk mengaktifkan UAHF tersebut dengan timeline yang fleksibel, namun setidaknya memiliki jeda 12 jam pasca UASF diluncurkan. Rancangan software baru ini memasukkan ukuran blok yang lebih dari 1 MB dan termasuk pula menambahkan spesifikasi SegWit karena menawarkan berbagai fitur yang menarik, di antaranya menghilangkan malleability dan berpotensi untuk mengaplikasikan jenis digital signature baru, semisal Schnorr signature. Bitmain dengan Jihan Wu sebagai CEO merupakan salah satu pihak utama yang mensponsori Bitcoin Unlimited dan sudah lama menentang metode

Baca Juga:  Steam Segera Mendukung Bitcoin

Miner Menentukan

Pada rancangan UASF yang abai terhadap kekuatan miner, berbagai skenario bisa terjadi. Bila miner memang tidak menyetujui proposal UASF, maka miner bisa meninggalkan sistem tersebut dan tetap pada protokol yang lama, dan dengan demikian menciptakan 2 fork yang sama sekali tidak kompatibel satu sama lain. Skenario lainnya adalah serangan oleh miner pada blok milik user, di mana kekuatan miner yang besar mampu membuat reorganisasi pada rantai milik user. Reorganisasi (reorg) ini membuat blok-blok lama tergusur oleh blok-blok milik miner yang memiliki rantai lebih panjang, dan demikian bisa membatalkan transaksi yang tadinya sudah berada di dalam blok. Untuk lebih menghancurkan rantai milik user, miner bisa memilih untuk menambang blok-blok kosong, sehingga transaksi yang telah terkonfirmasi akan kembali ke dalam tabel UTXO dan seluruh transaksi dibatalkan.

Skenario lainnya adalah serangan oleh miner pada blok milik user, di mana kekuatan miner yang besar mampu membuat reorganisasi pada rantai milik user. Reorganisasi (reorg) ini membuat blok-blok lama tergusur oleh blok-blok milik miner yang memiliki rantai lebih panjang, dan demikian bisa membatalkan transaksi yang tadinya sudah berada di dalam blok. Untuk lebih menghancurkan rantai milik user, miner bisa memilih untuk menambang blok-blok kosong, sehingga transaksi yang telah terkonfirmasi akan kembali ke dalam tabel UTXO dan seluruh transaksi dibatalkan.

Untuk menangani skenario terakhir, user bisa memiliki 2 opsi. Salah satunya adalah dengan melarang blok kosong. Namun opsi ini bisa ditangani dengan mudah oleh para miner dengan menambahkan 1 transaksi ke dalam blok-blok baru yang membuat blok tersebut valid namun tidak signifikan. Opsi kedua yang bisa ditempuh oleh user adalah dengan mengubah keseluruhan mekanisme PoW dalam Bitcoin. Namun opsi ini tentunya akan menimbulkan risiko yang lebih besar dalam sistem Bitcoin karena jangka waktu yang amat sempit.

Baca Juga:  Bitcoin Core Perkenalkan BIP-0152 Compact Block Relay untuk Kurangi Penggunaan Bandwidth Jaringan

Peringatan bagi Para Pengguna Bitcoin

Dengan 2 sudut pandang yang tampaknya tidak bisa menyatu ini (user dan miner), maka sangat disarankan bagi para pengguna Bitcoin untuk menunda transaksi Bitcoin mulai tanggal 1 Agustus 2017 hingga seluruh “pertikaian” ini mereda. Meskipun hasilnya masih sulit diprediksi, namun risiko kerugian masih bisa menghampiri para pengguna Bitcoin secara keseluruhan.

Kesimpulan

UASF tampaknya bukan akhir dari semua problematika skalabilitas Bitcoin, bahkan mungkin akan menimbulkan “kerusuhan” yang lebih gawat lagi. Hal ini bisa terjadi andaikata UASF tidak mendapatkan dukungan yang cukup dari miner. Dalam Bitcoin, mau tidak mau mesti disadari bahwa miner memegang peranan yang sangat penting, sebab kekuatan hash adalah satu-satunya hal yang diperlukan dalam pembentukan blok baru di bawah protokol PoW yang ada dalam Bitcoin saat ini. Node Bitcoin memang masih bisa memaksa miner membuat blok sesuai keinginannya, namun miner juga masih memiliki opsi untuk menolak pemaksaan ini dan membuat pemberontakan yang bisa jadi akan meruntuhkan dominasi Bitcoin dalam dunia cryptocurrency.

Dimaz

Cryptocurrency and cyber security Enthusiast at Kriptologi.com
Dimaz memiliki 10 tahun pengalaman sebagai programmer. Ia kini tenggelam dalam dunia cryptocurrency dan cyber security.
TAGS:

Dimaz

Dimaz memiliki 10 tahun pengalaman sebagai programmer. Ia kini tenggelam dalam dunia cryptocurrency dan cyber security.

3 thoughts on “Menakar Peluang UASF Atasi Problem Skalabilitas Bitcoin

Leave a Reply

%d bloggers like this: