. . .

Produk terkenal akan selalu menjadi inspirasi; baik inspirasi untuk menciptakan produk baru yang lebih baik atau sebaliknya, produk serupa tapi tak sama alias KW.

Binance Smart Chain (BSC) adalah kisah model kedua. Salinan Ethereum yang telah mendunia.

BSC didukung penuh oleh salah satu korporasi aset kripto terbesar di dunia: Binance, dengan CEO-nya yang terkenal vokal yakni Chengpeng Zhao atau CZ. BSC menyalin sebagian besar sistem dalam Ethereum. Dengan demikian, tingkat kompatibilitasnya amat tinggi dengan Ethereum. Sedikit sekali perubahan yang harus dilakukan oleh seorang pengembang kontrak pintar untuk pindah dari Ethereum ke BSC. Artinya, tak ada usaha ekstra untuk “bedol desa” dari sistem besutan Vitalik Buterin ke sistem milik CZ.

BSC tak perlu susah-susah mendidik programmer baru untuk meramaikan sistem. Cukup memberi insentif saja, maka loyalitas programmer Ethereum akan goyah dan melirik BC sebagai alternatif.

BSC memang cukup seksi bagi pengembang dan pengguna berkantong tipis. Blockchain ini dibuat lebih sederhana dan mengutamakan ongkos transaksi yang rendah. Bila ongkos transaksi dalam Ethereum menghabiskan duit hingga belasan dolar, di BSC, sebuah transaksi biasanya hanya memakan biaya sekian sen dolar. Murah. Sangat-sangat murah.

Akibatnya, BSC langsung ramai. Banyak programmer yang kesal dengan biaya mahal Ethereum merilis produk mereka di BSC. Pengguna pun sepakat. Untuk apa bayar ongkos transaksi mahal, bila profit tak seberapa?

Sayangnya tak hanya programmer baik yang pindah. Programmer nakal pun ikutan mereguk untung ilegal. Token-token palsu bertebaran di BSC. Wajarlah. Bila ada pasar yang sangat ramai, tentu jumlah copet berlipat ganda. Hukum pasar namanya. Anda sebagai pengunjung cukup menggengam dompet lebih erat, niscaya copet-copet tak akan mampir ke dompet Anda.

BSC juga terkenal lebih sentralistik. Ini betul, tapi juga dapat dipahami. Ada istilah namanya blockchain trilemma. Blockchain trilemma membungkus tiga isu blockchain yang diyakini tak akan terselesaikan, yakni: desentralisasi, keamanan, dan kapasitas/kecepatan. Pilih dua dari tiga, tidak boleh ketiga-tiganya.

BSC memilih dua: keamanan dan kecepatan. Satu yang jadi korban yakni desentralisasi. BSC meninggalkan model konsensus Nakamoto yakni Proof-of-Work (PoW) dan menggantinya dengan model yang lebih sentralistik yakni Proof-of-Authority (PoA). PoA hanya mengandalkan beberapa validator dalam memproduksi blok. Masing-masing validator menjalankan node berskala besar, sehingga performa konsensus jadi terjaga serta efisien. Tak seperti PoW yang desentralistik tapi boros sumber daya.

Blockchain besutan Binance sebenarnya ada dua: BEP2 dan BEP20. Nama koinnya pun sama: BNB. Ini yang terkadang membingungkan pengguna. Binance membungkusnya dengan istilah: dual blockchain system. Dua blockchain berjalan terpisah, namun ada jembatan penghubung.

BEP2 atau dikenal dengan nama Binance Chain, lebih cenderung dipakai untuk transaksi perdagangan dalam Binance, misalnya membeli koin lain dengan menggunakan BNB di BEP2. Alamat BNB di BEP2 menggunakan awalan bnb. BEP2 tak memiliki fitur kontrak pintar seperti dalam Ethereum.

BEP20 atau Binance Smart Chain/BSC inilah yang identik dengan Ethereum, seperti yang dibahas di bagian awal artikel ini. Alamat BNB di BEP20 ini juga identik dengan yang ada di dalam Ethereum, yakni berawalan 0x. Tak hanya itu, semua alamat yang sah dalam Ethereum juga bisa digunakan ulang dalam BEP20.

BEP2 dan BEP20 yang punya nama koin sama yakni BNB ini bisa di-swap bolak-balik dengan biaya rendah. Dari BEP2 ke BEP20, atau BEP20 ke BEP2. Nilai tukarnya 1:1, artinya tak ada selisih di situ.

BSC adalah trik jitu CZ yang terbukti sukses. Ethereum masih harus berbenah, dan semoga versi kedua nanti bisa lebih ramah di kantong pengguna.

2 thoughts on “Binance Smart Chain: Kisah Blockchain KW yang Raup Sukses”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.