. . .

Ethereum memang bikin iri banyak orang. Semenjak peluncurannya, platform ini selalu jadi rujukan oleh proyek-proyek baru. Peringkatnya yang nomor dua di total kapitalisasi pasar tak berarti ia kalah dengan si raja aset kripto, Bitcoin. Ethereum memang memposisikan diri pada pasar yang berbeda dengan Bitcoin. Inilah bukti kejeniusan anak muda Vitalik Buterin. Ia mampu berimajinasi dan mewujudkan sesuatu yang akan mengubah dunia.

Kontrak pintar yang tersemat pada blockchain. Ethereum namanya.

Tak butuh waktu lama bagi Ethereum untuk muncul ke permukaan. Fleksibilitas pemrograman yang ditawarkan Ethereum jadi primadona bagi mereka yang kesal pada Bitcoin karena sedikitnya opsi yang tersedia untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang ada. Di Ethereum, impian programmable money, atau uang yang dapat diprogram, benar-benar jadi kenyataan.

Tak hanya native coin ETH saja yang meraup sukses. Token yang dibangun di atas Ethereum pun mereguk untung. Inilah yang menginisiasi pihak-pihak lain untuk mencoba menyaingi dan mendongkel Ethereum dari kesuksesan instan yang diterima.

Tron adalah salah satunya.

Baca Juga:  Jaxx Luncurkan Wallet Bitcoin dan Ethereum dalam Extension Chrome

Aset kripto yang bermula dari token TRX ini dibesut oleh Justin Sun, pemuda asal Republik Rakyat Tiongkok ambisius yang kerap mengasosiasikan dirinya sendiri dengan Jack Ma pemilik Alibaba. Token TRX miliknya tercipta saat booming ICO beberapa tahun yang lampau. Tak seperti ribuan proyek yang gagal total, TRX termasuk salah satu yang mampu mewujud menjadi blockchain baru, Tron.

Ambisi proyek Tron adalah untuk memberikan jawaban bagi lambatnya sistem Ethereum (15 blok perdetik), mahalnya ongkos transaksi Ethereum (minimal 21ribu gas), dan inefisiensi sistem proof-of-work yang menghabiskan sumber daya listrik. Bagi Tron, fokus mereka adalah mempercepat pemrosesan blok (sekian detik per blok), memfasilitasi ongkos transaksi yang murah (dan gratis), dan juga menggantikan proof-of-work dengan proof-of-stake. Ada 27 super representative yang menjadi staker dalam sistem Tron yang memungkinkan konsensus dilakukan secara cepat dan efisien. Meski, tentu saja, mengorbankan sisi desentralisasi blockchain yang dibangun.

Perangkat lunak yang menyusun sistem Tron menyalin dari Ethereum. Tak hanya dari client software blockchain Ethereum saja yang disalin Tron. Perangkat pengembangan aplikasi smart contract yang ada pada Ethereum juga ditiru mentah-mentah oleh Tron.

Baca Juga:  Dogecoin, Shiba Inu yang Menggonggong di Bulan

Tron juga memberikan opsi lebih mudah bagi para pengguna yang gagap pemrograman. Tak perlu lagi memprogram ERC-20 untuk keperluan tokenisasi, karena ada pilihan TRC-10 yang lebih simpel. Tinggal beberapa kali klik saja, maka token TRC-10 akan tercipta bagi pengguna. Dengan TRC-10, maka ICO akan bisa dilakukan oleh siapa saja dengan biaya yang hampir tak ada.

Tapi sepertinya, TRC-10 ini justru jadi batu ganjalan Tron dalam mengkudeta Ethereum. Pilihan Justin untuk mengubah beberapa konfigurasi dalam Tron juga turut jadi penyumbang kegagalan Tron untuk terbang lebih tinggi lagi ketimbang posisinya yang sekarang.

TRC-10 tak dikenal oleh Ethereum. Oleh karena itu, untuk memfasilitasi TRC-10, Justin harus membongkar perangkat lunak Tron agar TRC-10 dapat tersemat dengan baik. Dari client software sampai perangkat pengembangan.

Tapi rupanya, perkembangan Ethereum amatlah pesat. Tron yang sejak awal terlalu tersentralisasi di pusaran Justin dan Tron Foundation, tampak tak mampu berlari sejajar dengan komunitas pengembang Ethereum yang luar biasa besarnya. Akhirnya, pengembangan Tron sangat ketinggalan.

Baca Juga:  Saat Seluruh Bitcoin Selesai Ditambang, Keruntuhan Membayang

Para pengembang blockchain yang sebenarnya makin jengah dengan mahalnya biaya transaksi Ethereum, tak melihat Tron sebagai alternatif solusi. Itu karena mereka harus pula menyesuaikan perangkat lunak mereka agar cocok dengan Tron. Tak bisa langsung dipindahkan.

Maka ketika Binance Smart Chain (BSC) muncul dan menawarkan kompatibilitas sempurna dengan Ethereum, BSC langsung melesat. Harga BNB pun kini setinggi langit.

Tron, meski masih bertengger di urutan belasan, tetap tak mampu menyerap “limpahan” pasar dari Ethereum. Karena ya tak lagi kompatibel dengan Ethereum.

Meski Justin masih suka membuat sensasi, pada kenyataannya, Tron tak begitu disukai. Inilah cerita Tron. Kisah kudeta Ethereum yang tak sampai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.