home Blockchain, Cryptocurrency Cryptocurrency Tidak Akan Mengentaskan Kemiskinan

Cryptocurrency Tidak Akan Mengentaskan Kemiskinan

Saya tekankan sekali lagi: cryptocurrency tidak akan mengentaskan kemiskinan. Tidak dulu, tidak sekarang, dan tidak pula di masa depan!

Jika merujuk bahwa profit trading dapat memakmurkan seluruh penduduk dunia, maka jawabannya pasti tidak. Profit yang dinikmati oleh para trader mata uang kripto bukan berarti pula dapat dinikmati oleh semua orang. Keuntungan atas kenaikan harga yang menimpa hampir semua mata uang kripto, terutama Bitcoin yang jadi sorotan utama, tidak menjamin bahwa di masa depan akan tetap terjadi kenaikan harga.

Kondisi sekarang ini tercipta karena suplai lebih sedikit dibandingkan permintaan. Begitu pasar kebanjiran suplai, harga akan jatuh (atau menghilang, dalam kasus mata uang kripto). Tidak hanya terjadi di mata uang kripto saja, melainkan di semua jenis barang (ataupun jasa) di dunia.

Kemiskinan terjadi karena faktor-faktor yang lebih kompleks, lebih dari sekedar kurangnya pendapatan yang diterima oleh seseorang sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan diri sendiri. Tentu saja menganalisis penyebab kemiskinan berada di luar bidang kepakaran yang saya geluti (jikalau memang saya dianggap pakar), dan Anda mesti menelaah sendiri untuk lebih banyak tahu tentang topik ini (dan barangkali Andalah yang akan menyelesaikannya).

Baca Juga:  Analisis Fundamental Cryptocurrency

Wawancara Forbes dengan Brian Singer berjudul “How Bitcoin Will End World Poverty” tidak cukup berhenti membaca judulnya saja. Perlu diteliti lebih lanjut bahwa yang dimaksud oleh Singer adalah potensi blockchain (yang ada dalam model Bitcoin) untuk mengurangi biaya transaksi keuangan, yang dengan demikian mempermudah aktivitas ekonomi masyarakat dunia. Hal ini diperjelas lagi oleh Kuznetsov dalam artikel yang terpisah: How Emerging Markets and Blockchain Can Bring An End to Poverty.

Pada dasarnya blockchain memiliki konsep-konsep yang sangat menarik diterapkan dalam metode pembayaran yang saat ini telah jauh lebih baik ketimbang beberapa tahun lalu. Di China, negara yang saya kunjungi bulan lalu, orang-orang telah sangat familiar dengan metode pembayaran dengan menggunakan ponsel. Hanya saja, akan sangat sulit bagi pengunjung atau orang asing untuk masuk ke dalam sistem, karena mesti melakukan set-up perangkat dan lain sebagainya. Tentunya jika ada metode pembayaran yang lebih global, maka siapapun yang berasal dari penjuru muka bumi bisa dengan mudah bertransaksi dengan penjual lokal.

Baca Juga:  Auroracoin Naik Pamor Karena Panama Papers

Demikian juga yang dimaksud Kuznetsov dalam artikelnya untuk Forbes. Blockchain akan berperan penting dalam pasar global sebagai alat bertransaksi dengan biaya yang rendah dan berkecepatan tinggi. Demikian pula dengan usaha untuk memerangi korupsi karena transparansi yang ditawarkan oleh blockchain mampu merekam informasi dan mempublikasikannya dengan aman (entah mengapa Kuznetsov memberi contoh developing country atau negara berkembang sebagai cerminan negara-negara penuh korupsi. Padahal, di negara maju pun korupsi jamak terjadi).

Hanya saja, menjadi sebuah PR besar bagi semua orang yang berkecimpung dalam dunia blockchain untuk mewujudkan karakteristik blockchain yang diidam-idamkan: biaya rendah, berkecepatan tinggi, latensi rendah, dan terpercaya. Sementara saat ini blockchain milik mata uang kripto populer sudah megap-megap menangani jumlah transaksi yang makin hari makin banyak. Bahkan jaringan Ethereum sempat tumbang gara-gara mainan Cryptokitties yang meledak di pasaran. Bagaimana cara menangani transaksi keuangan di seluruh dunia dalam blockchain?

Baca Juga:  Pemerintah AS Tertarik Gunakan Blockchain dalam Solusi Cybersecurity

That’s the million dollar question!

Dimaz

Cryptocurrency and cyber security Enthusiast at Kriptologi.com
Dimaz memiliki 10 tahun pengalaman sebagai programmer. Ia kini tenggelam dalam dunia cryptocurrency dan cyber security.

3 thoughts on “Cryptocurrency Tidak Akan Mengentaskan Kemiskinan

  1. Pertanyaan iseng-iseng nih om Dim..

    “Membantu om.. contoh: Cripto-currency -> deflationary currency -> orang-orang miskin jadi terpapar mindset menabung aset alih-alih konsumtif seperti inflationary currency.”

    1. justru pertumbuhan ekonomi dipicu oleh konsumsi. tanpa konsumsi yang memicu produksi, perekonomian akan stagnan bahkan masuk ke masa depresi.

      1. Mungkin sebentar aja depresinya, 2015-2017 ini emang banyak yang main crypto, tapi modal yang beredar tidak besar-besar amat kok.
        Pada akhirnya modal dari trading dan investasi crypto juga harus lari ke sektor riil dan juga konsumsi bakalan meningkat, karena diperkirakan 2018 ke atas kayanya bakal terjadi panen crypto kok, moga bisa menahan siklus krismon 10 tahunan.

Leave a Reply

%d bloggers like this: