. . .

Proof of Work (PoW) yang digagas oleh Satoshi Nakamoto mulai kehilangan pamornya. Mekanisme konsensus yang awam disebut dengan istilah mining atau penambangan, belakangan ini makin sering dinyinyiri orang karena konsumsi energinya yang luar biasa besar. Bergesernya tren dunia ke arah penghematan energi dan energi hijau, maka menambang aset kripto tak banyak lagi diadopsi platform blockchain baru.

Sebagai gantinya, Proof of Stake (PoS) makin naik daun. Metode yang dulu diperkenalkan oleh Sunny King melalui Peercoin ini dianggap lebih ramah lingkungan. Kebutuhan komputasi PoS memang ratusan kali lipat lebih rendah ketimbang PoW. PoS atau yang juga disebut staking, jadi primadona. Bahkan Ethereum, sang runner-up aset kripto paling berharga di dunia pun, sedang beralih ke staking.

Staking bagi pengguna biasa tak membutuhkan usaha besar. Staking biasanya cukup dilakukan melalui aplikasi wallet. Atau, bila tak mau repot-repot, melalui pihak ketiga yang menawarkan pengelolaan staking seperti Binance Earn.

Layanan semacam Binance Earn ini memanjakan mereka yang malas memegang portofolio aset kripto mereka sendiri, yang bisa jadi terdiri atas lima, sepuluh, atau bahkan belasan aset. Bila masing-masing aset bisa di-stake, dan tiap aset membutuhkan wallet khusus, maka bisa dibayangkan betapa repotnya mengelola staking sendirian.

Intinya, staking memang sedang tren. Mendapatkan passive income dari aset kripto tanpa usaha, nikmat bukan?

Tetapi ada hal lain yang perlu diwaspadai atas staking. Staking adalah partisipasi terhadap konsensus atas sebuah platform blockchain, yang kemudian akan mendapatkan imbalan. Serupa halnya dengan proses mining, ada koin baru tercipta dalam setiap blok yang dibuat. Dengan kata lain, dalam setiap blok akan ada uang baru tercetak dan tersedia di pasar.

Hmm… terdengar seperti inflasi!

Secara konsensus, inflasi disebabkan oleh kenaikan jumlah uang beredar yang tidak diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi. Dampak dari inflasi di antaranya menurunnya kekuatan uang untuk membeli barang atau jasa, sehingga secara implisit, kekayaan seseorang yang memegang uang tersebut menurun.

Staking mestinya juga harus dilihat sebagai aktivitas inflasi. Staking bermanfaat bagi mereka yang melakukan staking, dan di sisi lain merugikan mereka yang tidak melakukan staking, entah karena berdagang atau menyimpannya rapat-rapat dalam cold wallet. Hal ini karena mereka yang bukan staker tidak mengalami “penyesuaian nilai” atas aset yang dimiliki. Sementara, hasil staking yang diterima para staker ini juga tidak bisa dilihat

Sistem yang menerapkan staking memberi tekanan bagi semua pemilik aset untuk mengunci aset mereka dalam aktivitas staking, dengan memberikan insentif semu. Penguncian sebagian aset tersebut diharapkan mampu mendongkrak harga aset di pasaran, karena suplai akan menurun dengan asumsi permintaan tetap (atau bahkan meningkat). Kenaikan aset yang demikian tidak akan berkesinambungan manakala para staker mulai melepas aset mereka bersamaan dan dalam waktu singkat yang membanjiri pasar dengan aset yang tadinya dikunci, ditambah koin-koin baru hasil staking.

Maka sebenarnya, platform yang menawarkan APY staking kecil jauh lebih bagus ketimbang platform dengan return staking APY besar seperti AXS yang sampai duaratus persen.

Pada koin-koin berbasis mining, ada kebebasan lebih besar bagi pemegang asetnya. Mereka ini tidak dituntut menjadi miner, karena membutuhkan kemampuan teknis dan finansial yang cukup besar. Dengan demikian, hanya ada sebagian kecil pengguna saja yang akhirnya menjadi miner dan berkontribusi pada konsensus sistem tersebut, sementara mayoritas pengguna lainnya akan tetap jadi pengguna biasa. Para miner juga “dipaksa” untuk menjual hasil mining mereka ke pasaran secara rutin untuk menutup biaya operasional yang mereka keluarkan. Dalam hal ini, pasar koin berbasis mining sudah terlatih untuk menyerap suplai tambahan yang dihasilkan oleh para miner, dan dengan demikian lebih sustain dalam mencapai harga baru.

Sementara pada sistem berbasis staking, biaya operasional yang muncul atas operasi staking (misalnya pada stake pool) tidak sebesar biaya mining. Dengan demikian, operator serta peserta staking tak merasa wajib menjual hasil staking mereka secara rutin ke pasaran.

Padahal kita sendiri sudah tahu bahwa musim panen besar-besaran akan menurunkan harga jual barang di pasar. Masih bagus kalau ada yang beli. Kalau busuk di gudang, siapa yang tanggung? Aset kripto, bila tak laku dijual, mau diapakan? Apalagi tipe-tipe aset tak berguna seperti governance token (AXS misalnya, atau juga DOT) yang hanya punya sedikit atau nol nilai utilitas.

Dari analisis ini, saya sendiri lebih cenderung bullish (sesuai istilah yang sering dipakai influencer sekarang) pada koin-koin PoW, karena dampak inflasi yang lebih rendah ketimbang koin-koin PoS. Setiap memegang koin PoS, tangan saya gemetaran, ingin cepat-cepat di-stake bila tak ingin kehilangan nilai (meski hasil stake kecil sekali). Atau was-was tiap kali para whale menuang koin hasil staking mereka di pasaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.